Dalam sepak bola modern, pemain sepak bola identik
dengan rambut. Untuk sekarang ini tentu kita akan tahu dengan Cristiano Ronaldo.
Ya, sebagai pria yang menjadi sorotan dunia, model rambut sangat penting baginya.
CR7, julukan Cristiano Ronaldo, acap kali mengganti model rambutnya. Entah
warna rambut, model, atau sekarang dia bahkan menggunakan gaya cepak.
Nama lain, tentu kita tidak boleh melupakan manusia
termahal di dunia sepak bola, Paul Pogba. Sama seperti pemain bola yang peduli
akan rambut, punggawa ini sering mengganti model rambutnya. Bahkan dia sempat
dijadikan lelucan bahwa model rambut dia selama di Manchester United (MU) lebih
banyak dari kontribusi yang dia berikan.
Untuk era yang lebih mundur lagi. Kita kenal dengan
pria flamboyant yang sangat modis baik di luar ataupun di dalam lapangan, siapa
lagi jika bukan David Beckham. Gelandang yang pernah bermain untuk Manchester
United, David Beckham, dan AC Milan ini dikenal dengan berbagai model
rambutnya. Jika pria jatuh cinta dengan kemampuan olah bola dan kehebatan
tendangan bebasnya, maka para wanita jatuh cinta dengan badannya yang atletis,
wajahnya yang tampan, dan tentu rambutnya yang unik dan kece.
Itu adalah contoh beberapa pemain sepak bola hebat
yang memiliki hobi gonta-ganti rambut. Di Indonesia, ada kabar yang sedang
hangat dan menjadi kontroversi di dunia sepak bola Indonesia. Musababnya adalah
Ketua Umum PSSI saat ini yang juga Pangkostrad TNI Letjen Edy Rahmayadi menyarankan para pemain timnas mencukur
rambutnya menjadi cepak. Hal itu sontak menimbulkan pro-kontra di antara
penggemar sepak bola.
Rambut
cepak identik dengan TNI. Hal yang wajar jika Edy menyarankan seperti itu
mengingat lata belakangnya adalah tentara. “ Cukurlah rambutmu menjadi cepak.
Pemain bola itu petarung. Tak sempat memainkan rambut ketika bertanding.
Tentara sama pemain bola itu sama. Apa ikut pemain luar negri yang rambutnya
diwarnain, Yang diikuti itu mainnya bukan rambutnya,” tegas Edy.
Edy
benar, pemain sepak bola adalah prajurit, mereka juga membela negara ketika
dipangil ke timnas. Tetapi, tentu mereka berbeda dengan tentara. Latar belakang
berbeda, medan perang berbeda, budaya yang berbeda, cara bertarung dan juga
senjata yang digunakan juga berbeda.
Tidak
adil jika kita menyamakan mereka berdua dengan setara. Tentara memang
peraturannya rambut harus cepak, tetapi pemain bola tidak. Biarkan para pemain
berkreasi sesuka mereka. Terkadang, model rambut bisa saja menjadi penyemangat
saat bermain.
Urusan
rambut seharusnya menjadi hak masing-masing, sama seperti agama, mereka bisa
memilih apa yang mereka mau, suka, dan cocok tanpa adanya paksaan dan tekanan
dari pihak lain. Pemain bebas mau menggunakan model rambut apa.
Ketiga
pemain di pembuka artikel ini adalah contoh pemain sepak bola yang hebat dan
sukses meski gaya rambut mereka beragam. Secara langsung, model rambut dan
skill bermain tidak berkorelasi. Jago ya jago, tidak ya tidak, apa pun model
rambutnya.
Sekali
lagi, rambut itu hak masing-masing pemain. Di lapangan, mungkin rambut hanyalah
sebatas gaya. Tapi tentu gaya permainan tidak terpengaruh oleh model rambut.
Ada pemain yang rambutnya dibuat bebrgai model, unik, diwarnain, toh skill
tetap ada, tetap berprestasi. Cepak atau botak pun begitu, ada yang jago ada
yang tidak.
Kalau
berbicara disiplin, hukumlah yang menentang intruksi pelatih, atau yang mangkir
saat latihan. Bukan karena rambutnya, mereka bukan anak sekolah lagi yang
rambutnya diatur-atur.
Daripada
mengurusi soal rambut, ada baiknya PSSI focus ke sektor teknis yang lebih
penting. Membenahi struktur, Merapihkan peraturan. Untuk hal ini, Liga 1 sering
diolok menjadi liga suka-suka. Seringnya PSSI membuat atau mengganti peraturan
secara tiba-tiba, dan juga tidak konsistensi soal peraturan tersebut.
Wasit
juga menjadi sorotan utama tentunya. Banyak yang mengeluhkan standar danm
kualitas wasit yabg bertugas masih jauh dari kata baik. PSSI bisa fokus
berbenah di sketor ini, akrena sangat vital. Pengembangan pemain muda juga
penting, untuk berkelanjutan dan regenerasi pemain di setiap daerah. Prestasi
masa depan dimulai dari pengembangan pemain muda pada saat ini. Pengembangan
pemain jelek? Jangan harap akan meraih prestasi optimal di kemudian hari.
Banyak
negara dan tim juara karena keahlian pemainnya, bukan model rambutnya. Medan
perang yang dihadapi prajurit ini adalah lapangan sepak bola, yang mempunyai
cerita dan keunikannya sendiri. Saat berada di lapangan, semua mata tertuju
kepada pemain, maka dari itu, mereka tidak mau tampil mengecewakan dari segi
permainan, maupun penampilan. (AP29)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar