Powered By Blogger

Rabu, 03 Mei 2017

Persaingan Sesama Pengemudi Ojek Online



Mkhitaryan baru saja menepi di samping pusat berbelanjaan terbesar di Jakarta, dengan mengenakan atribut khas ojek online. Dia menyalakan sebatang rokok untuk menemaninya. Ia menepi untuk beristirahat sambil menunggu untuk mendapatkan order. Cukup lama ia menunggu, tetapi orderan yang ia tunggu tak datang juga. Tiba-tiba saja, datang pengemudi lain dan langsung membawa penumpang yang telah memesannya. Mkhitaryan pun bingung, mengapa ia tidak mendapatkan order, sedangkan pengemudi yang lebih jauh lokasinya bisa langsung mendapatkan order?

Ryan mengaku, dia pernah mendengar selentingan kabar mengenai pengunaan aplikasi tuyul. Tuyul yang dimaksud bukanlah tuyul asli, tetapi aplikasi yang fungsinya sama dengan tuyul, yaitu menguntungkan. “Ya orang curang sih ada aja mas,kita sih bekerja secara jujur aja yah,” ucapnya. 

Ditanya mengenai tuyul, meskipun ia pernah mendengar, tetapi ia tidak mengetahui cara kerjanya. “Katanya sih ada aplikasi yg namanya tuyul atau titik. Tapi saya ga tau cara kerjanya kaya gmn,” tambahnya.

Selain disebut tuyul, metode ini juga disebut sebagai ‘titik’ atau ‘nitik’. Maksudnya adalah meletakkan titik gps tidak sesuai dengan lokasi kita. Kasus Mkhitaryan di atas adalah contohnya. 
Ketika si pengemudi yang menggunakan titik, maka dia akan meletakkan titiknya di  dalam mall, sedangkan dia bisa saja menunggu di tempat yang agak jauh. Orderan akan datang ke si pemasang titik terlebih dahulu, meski dia agak sedikit jauh lokasinya daripada pengemudi yang menunggu di luar mal, karena pengemudi lain memasang titiknya di dalam mal.

Meski banyak praktik curang, tetapi bagi Redo yang juga pengemudi ojek online tidak terlalu mempersalahkannya. “tidak menjadi sebuah masalah yang berarti untuk driver jujur seperti saya,” ucapnya.

Aplikasi yang digunakan untuk nitik ini dikenal dengan nama fake gps. Aplikasi untuk memalsukan lokasi gps. Dalam kasus yang lebih rumit, ada yang bahkan mampu membuat lebih dari 1 titik palsu. Tititk ini bisa disebar ke beberapa lokasi sekaligus.

Pengemudi lain, Tomi, juga mengatakan ada jenis kecurangan lain, yakni order fiktif. Hal ini dilakukan dengan mekanisme memnita bantuan oang lain agar memesan diri kita. Hal ini dilakukan biasanya untuk pengemudi yang searah pulang atau karena mengincar bonus. Tidak hanya itu, Tomi juga memberitahukan bahwa perbuatan itu bisa saja merugikan pengemudi lain. “Misal orderan diterima pengemudi lain, dia bisa rugi karna dibatallkan, tapi kalo order langsung saya yg terima tidak ada kerugian untuk driver lain,” jelasnya. 

Berbeda dengan aplikasi tuyul, order fiktif ini tidak selalu merugikan. Order fiktif akan merugikan jika ‘salah tembak’ atau ternyata pengemudi yang menerima orderan bukan pengemudi yang dituju. Di setiap ojek online ada mekanisme presentase penerimaan, inilah yang membuat pengemudi dirugikan jika order yang diterima dibatalkan oleh si pemesan, jika kurang dari batas yang ditentukan, maka bisa saja bonus tidak cair.

Para pengemudi pun mengaku tidak mau ambil pusing dengan praktik curang ini. Mereka sadar bahwa sudah ada yang mengatur jalannya rezeki, jadi tidak usah iri atau menggunakan cara curang juga untuk mendapatkan order. 

Tetapi diharapkan pengemudi yang melakukan cara curang seperti ini dapat menyadari kesalhannya dan segera berhenti merugikan pengemudi lain. “Hargai usaha orang orang yg bekerja dengan jujur, tidak semua yg kalian makan akan menjadi hal yg nikmat sesungguhnya itu hanya lah kesenangan sesaat yg tidak memiliki arti,” tegas Redo.

Sabtu, 15 April 2017

OJEK ONLINE: SEJAHTERAKAH PENGEMUDI MEREKA?

Ketiga Pemain Besar Ojek Online, Uber, Grab, Gojek

JAKARTA – Kehadiran transportasi online beroda dua atau yang biasa kita kenal dengan ojek online sangat membantu masyarakat dalam urusan transportasi. Tidak hanya dapat mengantarkan kita ke tujuan yang kita tuju, tetapi juga dapat membelikan kita makanan, atau sekedar mengantar barang ke tempat lain. Dampaknya juga luas, banyak masyarakat yang mendapatkan mata pencaharian baru ini sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran. Dari jumlah pengguna jasa ojek online yang banyak dan juga jenis layanan yang beragam membuat orderan tentu ramai, tetapi apakah mitra pengemudi merasakan kesejahteraan dari pekerjannya ini?

Saat ini hanya ada tiga pemain besar saja dalam dunia transportasi online. Sebelumnya yang lain juga menjamur, sebelum hilang karena kalah bersaing. Ketiga pemain utama itu adalah Gojek, Grab, dan Uber. Gojek ada sejak 2010, Grab masuk ke Indonesia pada tahun 2015, sedangkan Uber lebih muda kehadirannya di Indonesia, masuk pada April 2016.  Gojek memiliki layanan yang paling lengkap, selain mobil (Gocar) ada Go-Ride, Go-Send, GO-Food, dan Go-Mart. Setiap pengemudi dapat menerima pesanan dari tipe layanan tersebut. Sedangkan Grab, dalam layanan roda dua-nya hanya memili Grabbike, GrabFood dan GrabExpress. Berbeda dengan kompetitor lainnya yang memiliki layanan yang beragam, Uber hanya memiliki layanan antar orang berupa UberX dan UberMoto.

Berbicara soal kesejahteraan, berarti mengenai pendapatan pengemudi, insentif atau bonus, transparansi pembayaran, dan layanan lain semisal asuransi. Menjadi primadona para pencari nafkah, teryata tidak semua pengemudi merasa sejahtera. Untuk masalah insentif  dan transparansi Gojek yang paling baik diikuti oleh Grab dan Uber.


Tidak hanya mereka yang membutuhkan pekerjaan saja yang mencoba peruntungan menjadi pengemudi ojek online. Banyak dari mereka yang menjadikan ojek online ini sampingan. Tidak terbatas pada pegawai atau yang sudah mempunyai pekerjaan tetap saja, tetapi juga banyak mahasiswa yang menjadikan ojek online ini sambilan untuk menambah uang jajan mereka.

Seperti yang dituturkan oleh Naufal, pengemudi Gojek dan juga mahasiswa di sebuah universitas di Jakarta Timur yang dia wawancara via aplikasi pesan instan pada Jumat (12/04/2017). Dia mengisahkan aktivitas dia menyambi ojek online sembari kuliah sebagai aktivitas utama.

“Kalo dibilang sejahtera dari segi income, insentif, dsb saya rasa sudah cukup ya, karena kebetulan saya masih mahasiswa yang belum memilki banyak tanggungan dan gojek hanya sebagai sampingan saya untuk mencari uang tambahan,” jelas Naufal.

Hal yang berbeda disampaikan oleh salah satu driver Grab yang juga mahasiswa dan menyambi sebagai pengemudi Grab. Jika Naufal yang sambilan merasa cukup di Gojek, tidak demikian dengan Dimas pengemudi Grab.

“Sebab, kita harus mencapai angka penerimaan 60% untuk mendapatkan insentif, misalnya tidak sampai 60% maka insentif kita hangus atau tidak dapat sama sekali, jelasnya.

Meskipun dari pendapatan saja Grab sudah lumayan, tetapi Dimas masih mengeluhkan soal insentif dan transparansi pembayaran oleh pihak Grab ke pengemudi.

“Perhitungan insentifnya tidak jelas dan tidak transparan, kalo dari pendapatan menurut saya pribadi lumayan,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh pengemudi Grab lainnya yang bekerja secara penuh waktu di Grabbike. Lukman, seorang pengemudi Grabbike yang mengemudi secara penuh waktu di Grabbike mengatakan jika sejahtera atau tidaknya pengemudi bergantung kepada diri pengemudi masing-masing.

“Jika kita rajin, ya pendapatan akan semakin banyak,” ujarnya.

Tetapi ia membandingkan Grab dengan Gojek, dan Gojek menurutnya lebih transparan dan jelas. 

“Untuk mekanisme di Grab saya akui cukup membingungkan dibanding dengan gojek yang lebih transparan. Karena jika di Gojek, mulai pembayaran, penilaian dari pelanggan, semua tertera. Sedangkan Grab, kadang penghitungan pembayaran berbeda dengan apa yang kita dapat, dan penilaian dari pelanggan tidak bisa kita lihat langsung,” jelasnya.
                      
Pengemudi Grab tidak sendirian, pengemudi Uber juga merasakan hal yang sama, bahkan lebih parah. Dari insentif yang kecil jika dibandingkan dengan dua competitor lain, dan juga tarif yang paling murah di antara ketiganya.
Ditanya mengenai kesejahteraan, Surya, salah satu pengemudi Uber yang sudah bergabung sekitar 11 bulan bersama Uber, menjelaskan tentang insentif  Uber dan menanyakan balik apakah itu sejahtera atau tidak.

“Menurut anda, bagaimana dengan bonus 200 ribu melakukan 35x perjalanan satu minggu dan tarif 0-10km seharga Rp. 1250 dan  di atas 10km Rp. 2000 itu mensejahterakan?” Tegasnya.

Sebagai perbandingan, insentif yang berlaku di Gojek adalah sistem poin, dengan jumlah maksimal bonus yang didapat dalam sehari adalah Rp. 100.000. Rinciannya adalah:

§  12 Poin = Rp. 5.000
§  14 Poin = Rp. 25.000
§  16 Poin = Rp. 30.000
§  20 Poin = Rp. 40.000

Jelas sangat jauh jika dibandingkan dengan Uber yang hanya Rp. 200.000 seminggu. Ditambah, Gojek mempunyai beberapa layanan sehingga membuat pendapatan pengemudi semakin banyak.

Bonus yang diberikan oleh Gojek tentu bukan tanpa syarat. Ada persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin mendapatkan bonus, yaitu performa. Performa harus minimal 40% untuk mendapatkan bonus, perhitungannya adalah setidaknya kita menerima 4 order dari 10 order yang masuk.

Menurut Naufal, syarat seperti ini cukup  sulit dan berat. Naufal melanjutkan, biasanya performa tidak mencapai target karena banyaknya cancel yang dilakukan oleh pelanggan.

“Atau saat order Gofoood restaurant yang dituju tutup, sehingga terpaksa pengemudi melakukan pembatalan,” tambahnya.

Meski begitu, ia mengakui hal tersebut dapat ditutupi oleh banyaknya orderan yang berarti jumlah pengguna Gojek saat ini cukup banyak.

Naufal menambahkan, bahwa dia juga pernah menjadi mitra pengemudi Uber. Dia membandingkan antara Gojek dan Uber bahwa lebih sejahtera di Gojek karena dari tarif dasarnya saja sudah berbeda, jika di Gojek 2000 km saat bukan jam sibuk dan tentunya bertambah saat jam sibuk. Sementara Uber hanya 1250/km.

“Ya untuk saat ini masih Gojek yang paling bagus menurut saya untuk masalah kesejahteraan pengemudi,” tegasnya.

Untuk masalah kemudahan mendapatkan bonus, Lukman juga mengakui bahwa di Grab sedikit susah untuk mendapatkan bonus tersebut semenjak pemberlakuan kebijakan baru.

“Mudah atau tidak, sebenarnya biasa saja. Namun semenjak kebijakan insentif baru per-tanggal 10 April 2017 kemarin, saya akui cukup menyulitkan pengemudi. Karena minimal tingkat penerimaan pengemudi harus 60% jika ingin mendapatkan minimal argo, dan bonus-bonus yang lainnya.


Uber juga menerapkan sistem insentif yang tidak jauh berbeda. DI Uber, setiap pengemudi mendapatkan insentif sebesar Rp. 200.000 untuk setiap 35 perjalanan yang diselesaikan dalam Senin hingga Sabtu pagi pukul 04.00 WIB. Selain itu juga ada skema perkalian tariff ramai  1,1 sampai dengan perkalian 3,5 di area ramai.

Ketiga perusahaan ini juga memberikan promo guna menarik pelanggan sebelah untuk pindah jasa layanan, dan membuat pelanggan menjadi nyaman karena diuntungkan. Gojek memiliki Gopay atau dompet virtual yang menjadi alat pembayaran berbagai layanan Gojek. Ketika pelanggan memakai Gopay untuk pembayaran, maka ada berbagai potongan untuk layanan Goride, Gosend dan Gomart, dan bahkan gratis ongkos kirim untuk layanan Gofood.

Berbeda dengan Gojek,yang memiliki dompet virtual,  Uber hanya melayani pembayaran menggunakan kartu kredit atau pembayaran tunai. Sistem promo yang diberikan oleh Uber adalah memberikan kode promo kepada pelanggan untuk digunakan. Promonya berupa potongan harga selama periode tertentu atau pemesanan dari/ke tujuan tertentu. Tidak hanya berupa potongan, terkadang ada juga promo yang menggratiskan keseluruhan biaya perjalanan.

Grab juga memberlakukan sistem promo yang sama dengan Uber, bahkan Grab lebih variatif dalam mengeluarkan promo dan dilakukan berulang ketika masa promo habis, maka akan ada promo baru lagi. Selain melakukan pembayaran dengan tunai, Grab juga memiliki dompet virtual bernama Grabpay. Promo yang diberikan juga tidak beda jauh dengan promo Gopay dan Uber. Untuk pembayaran via tunai, promo juga berupa kode promo untuk mendapatkan potongan atau menggratiskan biaya perjalanan.

Selain kebijakan yang dibuat oleh perusahaan, beberapa factor lainnya yang dapat menghambat adalah jumlah orderan yang tidak tentu ada di setiap daerahnya. Faktor pengemudi yang jumlahnya semakin menjamur juga menjadi faktor lain. Selain itu, terkadang ada saja orang yang iseng membuat orderan palsu untuk menjatuhkan tingkat penerimaan atau performa setiap pengemudi.

Naufal berharap jika Gojek dapat memperbaiki sistemnya ke depan, karena aplikasi Gojek untuk pengemudi terkadang masih sering mengalami masalah. Naufal pun menganggap bahwa sistem kompensasi yang diberikan pihak Gojek sebaiknya dikaji ulang terutama soal poin dan performa yang memberatkan para pengemudi.

Dimas juga berharap ada perbaikan yang menguntungkan para pengemudi, sehingga pengemudi tidak merasa dirugikan.

“Semoga lebih baik dari sebelumnya, hargai para pengemudi, jangan sering membuat promo, karena biayanya sudah sangat murah,” harapnya.

Hal yang senada juga diharapkan oleh Lukman. Dia berharap Grab bisa lebih transparan dalam segi pembagian bonus, insentif, penilaian, dan lain-lain.

“Apalagi akhir-akhir ini  seringkali Grab membuat potongan harga kepada pelanggan. Sehingga para pengemudi yang dibebankan dengan peraturan yang bisa dibilang cukup berat, harus pula menanggung harga yang tidak penuh, alias potongan harga yang terlalu sering diadakan,” keluhnya.

Para pengemudi Uber menganggap layanan antar orang saja tidak cukup, karena sudah ketinggalan dari competitor lain. Surya pun berharap  adanya layanan pengiriman barang (UberRush) dan makanan (UberEats). Dia beranggapan bahwa jika Uber membuka layanan itu di Indonesia, konsumen Uber akan bertambah yang berefek kepada penghasilan mitra Uber itu sendiri.

“Karena jika mengharap kenaikan intensif, tarif dan skema bonus, saya rasa tidak mungkin. Yang sudah-sudah insentif malah menurun dari waktu ke waktu, dan berlanjut. Melihat dari pengalaman ini saya pesimis jika akan membaik,” tutupnya.

Selasa, 17 Januari 2017

Ojek Online Yang Mendominasi


Perbincangan singkat biasa terjadi saat penumpang ingin menaiki motor, seperti driver menawarkan helm, masker dan haircap.


Tidak hanya bergerombol, terkadang pengemudi cukup seorang diri untuk berhenti di pinggir jalan sekedar mengecek handphone.


Salah satu pengemudi Gojek sedang melayani layanan gofood, sebuah layanan yang memungkinkan pelanggan memesan makanan via gojek.


Para pengemudi ojek online ini biasa berkelompok, dan mempunyai bascampnya sendiri, untuk sekadat istirahat ditemani oleh tukang minuman keliling.


Untuk pengemudi yang tidak berafiliasi ke suatu grup, biasanya mereka terus memacu kendarannya sembari menunggu orderan masuk.


Jika lelah, sandarkan saja motor di pinggir jalan, dan istirahat senyaman mungkin di motor sambil menunggu orderan seperti bapak ini.



Di musim hujan, jas hujan adalah senjata utama untuk menerabas hujan saat membawa penumpang, agar tetap produktif meski hujan turun.

Selasa, 15 November 2016

#WAJAHJAKARTA

Kumpulan foto yang dibuat untuk memenuhi tugas UTS Jurnalistik Foto

1. Keke Driver Grab
Keke bekerja penuh waktu menjadi mitra Grabbike. Saat ditemui di basecampnya di samping pos satpam bank BNI pada Sabtu (12/11/2016) ia berbagi kisah selama menjadi pengemudi Grabbike. Meskipun pengemudi ojek online, Keke salut kepada pemerintah atas pembangunan mRT dan LRT.
Foto: Ananda Prima


"Saya Keke, Saya fulltime di grab sejak awal 2016, dulu saya kerja di kawasan Pulogadung di pabrik farmasi. Saya sudah berkeluarga dan mempunyai satu anak, saya tinggal di Semper.
Menurut saya lebih membaik di dari segi ekonomi saat di Grab ketimbang di kerjaan terdahulu, lebih simpel.
Keuntungan kerja di Grab itu penghasilan lebih besar, banyak teman, tau jalan, tau tentang motor
Kelemahan di Grab, terkadang suka double order, 1 order banyak driver, terkadang aplikasi error atau jaringan buruk.
Harapan untuk Grab ke depan, tingkatin lagi promonya, supaya dpt banyak penumpang, karena punya 2 saingan besar yaitu Gojek dan Grab
Harapan untuk Jakarta atasi macet, salut buat pembangunan transportasi massal MRT dan LRT"



2. Rohman Driver Uber
Rohman Driver Uber dari Pemalang. Rohman menunggu jam sibuk yang berlaku di Uber dan istirahat di trotoar depan Bank BNI, Senin (14/11/2016). Sudah berada di Jakarta sejak 2003, Rohman mempunyai pengalaman kerja yang cukup banyak, dari kondektur, hingga mitra pengemudi Uber. Rohman berharap skema bonus di Uber meningkat.
Foto: Ananda Prima

"Nama saya adalah Rohman, saya asli Pemalang. Saya di Jakarta sudah  dari tahun 2003. Saya menjadi mitra Uber sudah empat bulan di Uber, sebelumnya saya bekerja di interior desaign.
Saya mempunyai harapan untuk  Uber, yaitu skema membaik dan meningkat, agar driver sejahtera.
Saya juga mempunyai harapan buat Jakarta, yaitu  kebersihan dan ketertiban di jalan lebih ditingkatkan. Pengalaman saya di Jakarta cukup banyak, saya pernag menjadi kenek mobil, jualan nasgor, kerja di interior dan saekarang di Uber. Apapun itu asal kita tekun dan niat hasilnya pasti lumayan."


3. Restifan Driver Gojek
Restifan, 23, Driver Gojek dari Bekasi. Saat ditemui pada Senin (14/11/2016) dia selalu mengambil orderan kemanapun selama badan masih sanggup. Meskipun warga Bekasi, tak jarang Restifan 'terpental' ke Jakarta Barat. Sebagai mita pengemudi Gojek, ia berharap Jalanan Jakarta lebih aman.
Foto: Ananda Prima

"Perkenalkan, nama saya Restifan, Saya kerja fulltime sebagai mitra driver Gojek, Saya berdomisili di Harapan Indah, Bekasi. Sebagai driver Gojek tentunya wajib punya mental yang berani kelempar ke daerah jauh seperti sekarang ini. Saya sudah sejak smp tinggal di Bekas, sebelumnya di Bogor, saya juga pernah di Yunani ngikut orang tua, ayah sebagai supir, ibu asisten rumah tangga
di kota Athena. Saya sudah lima bulan di Gojek. Harapan saya buat Gojek semoga tetap bertahan di tengah persaingan yang ketat. Lebih perhatikan skema, dan poin dikurangi. Harapan saya untuk Jakarta adalah semoga Jakarta menjadi lebih baik, dari sisi infrastruktur, mengurangi aturan pembatasan motor, pembenahan di segala sisi, banjir bisa dukurangi dan jika memungkinkan penyiapan petugas dalam setiap ruas jalan untuk bisa mengawasi lalu lintas jika ada pelanggaran, kecelakaan atau tindak kejahatan semala 24 jam."


4. Antonius Driver Gojek
Antonius driver Gojek berusia 26 tahun ini bekerja secara penuh sebagai mitra pengemudi Gojek. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskan menghabiskan waktu di jalanan, Anton berharap pemerintah memperbaiki jalan-jalan yang rusak karena berbahaya.
Foto: Ananda Prima
"Saya Antonius biasa dipanggil Anton. Saya sudah sejak kecil tinggal di Jakarta. Saya bekerja sebagai mitra driver Gojek. Sebagai driver, saya tenttunya berjibaku dengan jalanan setiap hari, Jalanan di Jakarta sebenernya kebanyakan kurang aman dan nyaman. Karena masih banyak jalan berlubang yang ukurannya cukup besar, jalanan yang kotor, sempit dan semrawutnya lalu lintas di ibukota. Harapan saya untuk Jakarta semoga pemerintah lebih memperhatikan kondisi jalanan yang ada terus melakukan perbaikan dengan kualitas terbaik, keadaan jalan diatur agar tidak semrawut lagi dan juga bagi para pengendara agar lebi tertib lagi, jika itu semua tercapai, maka jalanan akan lebih teratur dan kemacetan bisa sedikit terurai."


5. Deina, Kasir Carrefour
Denia yang bekerja sebagai kasir di Careefour Season City, sedang berada di Stasiun Kota untuk pergi ke Karawang ke rumah saudara pada Selasa (14/11/2016). Wanita asli Cirebon ini mengatakan jakarta lebih ramai daripada kampungnya. Tetapi keramian ini tetap tidak terasa sampai ke hati, karena tetap merasa sepi.
Foto: Ananda Prima

"Saya Deina, saya kerja di Carrefour sebagai kasir di Season City, sudah 2 bulan saya bekerja di sini, sebelumnya saya bekerja di Banten. Saya Asli Cirebon. Kesan saya selama di Jakarta, sukanya itu dapat banyak teman, kerjanya juga enak. Kalo dukanya ya jauh dari keluarga dan orang tua, dan juga 
ibu berada di Abu Dhabi. Jadi menurut saya keramaian di kota tidak terasa sampai hati. Saya juga punya teteh di Karawang dan ini mau mengunjunginya. Harapan saya buat Jakarta, gorong-gorong diperluas, banjir diatasi, sampah di kali dibersihkan, dilakukan penghijauan juga. Mengurangi demo, soalnya mengakibatkan macet. Walaupun Jakarta gaji lebih gede dan ramai, tapi tetep enakan di kampung walau lapangan kerja kecil dan umr rendah."

Sabtu, 04 Mei 2013

Hull City Promosi ke Premier League

Hull - Hull City menjadi tim kedua dari Divisi Championship yang memastikan diri promosi ke Premier League pada musim depan. Kepastian itu mereka dapat usai bermain imbang 2-2 dengan Cardiff City.

Menjamu Cardiff di Kingston Communications Stadium, Sabtu (4/5/2013), Hull tertinggal lebih dulu oleh gol Frazier Campbell pada menit ke-49. Tapi, Nick Proschwitz dan Paul McShane membuat mereka berbalik memimpin 2-1. Kemenangan Hull yang sudah di depan mata buyar setelah Cardiff menyamakan skor di injury time melalui penalti Nicky Maynard.

Hasil imbang 2-2 sudah cukup bagi Hull untuk mengamankan posisi kedua klasemen akhir Divisi Championship. Pasalnya, pada pertandingan lainnya, Watford malah kalah 1-2 dari Leeds United.

Di klasemen akhir, Hull menempati posisi kedua dengan koleksi 79 poin dari 46 pertandingan dan berhak promosi secara otomatis ke Premier League musim depan. Sementara itu, Watford berada di posisi ketiga dengan 77 poin dan akan menjalani play-off promosi bersama Brighton & Hove Albion, Crystal Palace, dan Leicester City untuk memperebutkan satu jatah tersisa.

Hull adalah tim kedua yang memastikan promosi ke Premier League. Cardiff yang menjadi juara Divisi Championship sudah melakukannya beberapa waktu yang lalu.

Hull sempat merasakan atmosfer Premier League selama dua musim sebelum terdegradasi pada tahun 2010. Setelah tiga musim berkompetisi di Divisi Championship, The Tigers akhirnya kembali ke jajaran elite pada musim mendatang.

Sumber: http://sport.detik.com/sepakbola/read/2013/05/04/230025/2238135/72/hull-city-promosi-ke-premier-league

Jumat, 05 April 2013

The Adventures of Tintin

Sebuah penantian akhirnya terbayar sudah! Steven Spielberg semenjak lama merupakan seorang penggemar seri komik The Adventures of Tintin. Sementara itu, penulis komik tersebut, Hergé, juga merupakan seorang penggemar dari karya-karya Spielberg dan menganggap bahwa hanya sutradara pemenang Academy Awards itulah yang dapat dengan benar-benar membawa jiwa deretan karakter dan kisah yang terdapat dalam seri The Adventures of Tintin. Walau pada awalnya proses adaptasi seri komik The Adventures of Tintin menuju sebuah film layar lebar banyak menemui hambatan, namun ketika Spielberg bertemu dengan Peter Jackson – seorang sutradara pemenang Academy Awards lainnya yang juga menggemari seri komik tersebut – perlahan-lahan proyek tersebut mulai menemukan titik terangnya. Dengan menggunakan teknologi motion capture – yang dinilai akan lebih mampu untuk menangkap jiwa dari jalan cerita seri komik tersebut daripada jika dihadirkan sebagai sebuah tayangan live action – proses produksi The Adventures of Tintin pun akhirnya dimulai pada tahun 2009.
Naskah cerita The Adventures of Tintin sendiri digarap oleh Steven Moffat, Edgar Wright dan Joe Cornish yang menggabungkan tiga seri komik awal The Adventures of Tintin, The Crab with the Golden Claws (1941), The Secret of the Unicorn (1943) dan Red Rackham’s Treasure (1944), menjadi satu kesatuan cerita. Dikisahkan, Tintin (Jamie Bell) yang sedang berjalan-jalan ke sebuah pasar bersama anjingnya Snowy, secara tidak sengaja menemukan sebuah miniatur model dari kapal legendaris, The Unicorn. Tertarik dengan desain replika kapal yang unik tersebut, Tintin kemudian membelinya dengan harga yang murah. Anehnya, ketika Tintin telah berhasil membeli replika kapal tersebut, dua orang berusaha untuk mendekatinya dan membeli miniatur model kapal The Unicorn tersebut dari tangan Tintin. Jelas hal tersebut semakin menambah rasa ketertarikan Tintin mengenai miniatur model kapal The Unicorn tersebut.
Secara tidak sengaja, setelah meletakkan miniatur model kapal The Unicorn yang ia beli di rumahnya, miniatur model kapal tersebut kemudian lenyap dicuri oleh seseorang. Atas petunjuk yang ia dapat, Tintin lalu berangkat ke rumah Ivan Ivanovitch Sakharine (Daniel Craig) yang ia duga merupakan orang yang berada di balik hilangnya miniatur model kapal The Unicorn yang ia miliki. Tanpa diduga, Ivan kemudian menjelaskan bahwa terdapat tiga miniatur model kapal The Unicorn di dunia ini yang dibuat oleh seorang pelaut legendaris, Sir Francis Haddock (Andy Serkis), dan diserahkan kepada ketiga puteranya. Berbagai misteri yang meliputi The Unicorn akhirnya membulatkan tekad Tintin untuk segera mencari tahu mengenai apa sebenarnya yang membuat miniatur model kapal The Unicorn tersebut begitu diincar oleh banyak orang.
Ketika sebuah film berada di tangan orang-orang seperti Spielberg dan Jackson, rasanya sangat tidak mungkin untuk meragukan kualitas visual yang mereka hasilkan. Dan hal tersebut terbukti dari tampilan visual yang mereka hasilkan untuk The Adventures of Tintin. Sangat mengagumkan! Pilihan Spielberg dan Jackson untuk menyajikan kisah The Adventures of Tintin dalam bentuk teknologi motion capture juga terbukti sebagai sebuah keputusan yang sangat tepat. Setiap karakter di film ini mampu menghadirkan ekspresi wajah yang begitu hidup dan nyata, termasuk karakter Snowy, yang seringkali tampil mencuri perhatian di sepanjang penceritaan film ini.
Jalan cerita The Adventures of Tintin sendiri mampu menghadirkan esensi semangat petualangan dan bersenang-senang yang memang dipegang teguh oleh seri komik yang telah dirilis semenjak tahun 1962 tersebut. Walau mereka yang mengharapkan adanya sentuhan kisah yang emosional a la film-film animasi karya Walt Disney/Pixar kemungkinan besar akan kecewa dengan film ini, namun lewat deretan adegan yang mampu menggelitik jiwa komedi dan petualangan setiap penontonnya, The Adventures of Tintin mampu tampil menjadi sebuah tayangan yang menghibur – walaupun pada beberapa bagian, film ini tampil terlalu antusias dalam menghadirkan deretan adegan aksinya sehingga kurang mampu untuk menggali berbagai potensi kisah lain yang ada di dalam film ini.
Sayangnya, karakter utama film ini, Tintin, adalah satu-satunya karakter yang ditampilkan dengan karakterisasi yang terlalu berjalan datar. Entah itu karena pengarauh kurang mampunya vokal Jamie Bell dalam menghidupkan karakter Tintin, atau karena karakterisasi Tintin yang memang terlalu lemah, karakter Tintin cenderung terlihat menjemukan jika dibandingkan dengan karakter-karakter pendukung lainnya. Bagian bersenang-senang film ini kebanyakan akan penonton dapatkan ketika The Adventures of Tintin menghadirkan karakter-karakter seperti Captain Haddock (Serkis), Thompson dan Thompson (Simon Pegg dan Nick Frost), Snowy ataupun karakter antagonis seperti Ivan Ivanovitch Sakharine (Craig) yang notabene memiliki karakterisasi dan jiwa yang lebih berwarna daripada karakter Tintin.
Mereka yang memang semenjak lama telah menyukai seri kisah The Adventures of Tintin sepertinya tidak akan begitu kecewa dengan apa yang dihasilkan kolaborasi antara Steven Spielberg dengan Peter Jackson pada film ini. Dipenuhi dengan berbagai adegan aksi yang mampu ditampilkan lewat tata visual dan produksi yang mengagumkan, The Adventures of Tintin jelas berada pada barisan terdepan ketika berhubungan dengan kemampuan film ini untuk memuaskan para penikmatnya dengan tampilan produksinya. Seandainya Spielberg dan Jackson mau untuk sedikit memberikan ruang lebih besar untuk pengembangan karakter dan jalan cerita, mungkin The Adventures of Tintin akan mampu tampil lebih bermakna. Pun begitu, The Adventures of Tintin tetap mampu tampil sebagai sebuah tayangan animasi yang mengesankan.


Directed by Steven Spielberg Produced by Peter Jackson, Steven Spielberg, Kathleen Kennedy Written by Steven Moffat, Edgar Wright, Joe Cornish (screenplay), Hergé (comics, The Adventures of Tintin) Starring Jamie Bell, Andy Serkis, Simon Pegg, Nick Frost, Daniel Craig, Tony Curran, Toby Jones, Gad Elmaleh, Mackenzie Crook, Daniel Mays, Cary Elwes, Phillip Rhys, Ron Bottitta Music by John Williams Cinematography Janusz Kamiński Editing by Michael Kahn Studio Columbia Pictures/Paramount Pictures/Amblin Entertainment/WingNut Films/The Kennedy/Marshall Company/Hemisphere Media Capital/Nickelodeon Movies Running time 107 minutesCountry United States, New Zealand Language English




Sumber:http://amiratthemovies.wordpress.com/2011/11/16/review-the-adventures-of-tintin-2011/

Senin, 18 Februari 2013

Lyrics You Belong With Me



"You Belong With Me"


You're on the phone with your girlfriend ‒ she's upset,
She's going off about something that you said
'Cause she doesn't get your humor like I do.

I'm in the room ‒ it's a typical Tuesday night.
I'm listening to the kind of music she doesn't like.
She'll never know your story like I do.

But she wears short skirts
I wear t-shirts
She's cheer captain
And I'm on the bleachers
Dreaming about the day when you wake up and find
That what you're looking for has been here the whole time.

If you could see
That I'm the one
Who understands you.
Been here all along.
So, why can't you see ‒
You belong with me,
You belong with me?

Walking the streets with you and your worn out jeans
I can't help thinking this is how it ought to be.
Laughing on a park bench thinking to myself,
"Hey, isn't this easy?"

And you've got a smile
That could light up this whole town.
I haven't seen it in awhile
Since she brought you down.

You say you're fine ‒ I know you better than that.
Hey, what you doing with a girl like that?

She wears high heels,
I wear sneakers.
She's cheer captain,
And I'm on the bleachers.
Dreaming about the day when you wake up and find
That what you're looking for has been here the whole time.

If you could see
That I'm the one
Who understands you,
Been here all along.
So, why can't you see ‒
You belong with me?

Standing by and waiting at your backdoor.
All this time how could you not know, baby ‒
You belong with me,
You belong with me?

[Instrumental]

Oh, I remember you were driving to my house
In the middle of the night.
I'm the one who makes you laugh
When you know you're 'bout to cry.
I know your favorite songs,
And you tell me about your dreams.
Think I know where you belong,
Think I know it's with me.

Can't you see
That I'm the one
Who understands you?
Been here all along.
So, why can't you see ‒
You belong with me?

Standing by and waiting at your backdoor.
All this time how could you not know, baby ‒
You belong with me,
You belong with me?

You belong with me.

Have you ever thought just maybe
You belong with me?

You belong with me.